Korupsi masih menjadi salah satu masalah besar di berbagai negara. Namun sayangnya masih banyak masyarakat yang tak acuh dan menganggap korupsi sebagai masalah sepele. Masyarakat menganggap bahwa korupsi merupakan aib pribadi yang tidak seharusnya diurusi. Padahal jika masyarakat tutup mata dan telinga, maka para pelaku korupsi semakin banyak dan menjadi-jadi.
Berdasarkan Indeks Perilaku Antikorupsi (IPAK) tahun 2020 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 21,45 persen keluarga di Indonesia mewajarkan saat suami memberi uang lebih kepada keluarga terlepas dari penghasilan yang biasa mereka terima, tanpa tahu kejelasan dari mana uang tersebut berasal.
Baca juga: Penyebab Seseorang Terkena TBC dan Cara Pencegahannya
Selain itu, dalam ranah komunitas, terdapat 27,93 persen masyarakat mewajarkan kegiatan suap menyuap saat menggelar acara, bahkan dalam ranah publik sebanyak 16,79 persen masyarakat juga menganggap wajar saat menyuap petugas pelayanan publik.
Hal ini menjadi bahan evaluasi kepada seluruh masyarakat untuk lebih peduli dengan korupsi. Agar terbebas dari korupsi, negara kita butuh partisipasi dari masyarakat untuk turut serta dalam mendukung usaha pemberantasan korupsi. Oleh karena itu, ada 5 elemen yang bisa membangun kepedulian masyarakat dalam memberantas korupsi, yaitu :
Tumbuhkan dan Biasakan Karakter Integritas
Dalam memberantas korupsi, karakter yang harus ada sebagai pondasi utama adalah integritas. Membangun integritas memang bukan hal yang mudah dilakukan, namun masih bisa diusahakan. Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu mengubah kebiasaan negatif menjadi kebiasaan positif.
Cara efektif untuk melakukan hal tersebut dengan menjadikan kebiasaan baik sebagai kebiasaan yang pasti kegiatannya, sehingga tidak ragu untuk melakukannya. Selanjutnya jadikan kebiasaan baik menjadi menarik, sesuatu hal yang menarik akan lebih mudah untuk dilakukan dan hasilnya akan lebih memuaskan.
Baca juga: Lakukan 7 Langkah Ini Agar Tercipta Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
Selain hal di atas, Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) membeberkan nilai-nilai integritas dengan istilah “Jumat Bersepeda KK” yaitu Jujur, Mandiri, Tanggung Jawab, Berani, Sederhana, Peduli, Disiplin, Adil, dan Kerja Keras.
Bentuk Jaringan dan Kolaborasi
Jaringan dan kolaborasi yang kuat antar masyarakat dan pemerintah sangat berperan penting dalam memberantas korupsi. Ada tiga keuntungan yang bisa didapatkan jika memiliki jaringan dan kolaborasi yang luas dengan komunitas dan pemerintah, diantaranya mudah untuk mengakses informasi yang sesuai dengan apa yang sedang di cari.
Selain itu, bisa mendapatkan akses pengetahuan dan skill dari bermacam-macam bidang, dan tentunya gerakan antikorupsi yang dibangun menjadi lebih kuat dan efektif.
Ada kiat tertentu yang bisa dilakukan untuk mendapatkan jaringan yang kuat, seperti harus sadar dengan keahlian yang dimilikinya, sehingga mampu membangun koneksi yang lebih baik dan mampu mengajak orang-orang penting yang bisa bergabung dalam jaringan tersebut.
Komunikasikan Nilai Integritas
Untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat, maka perlu untuk mengkomunikasikan nilai integritas. Tujuannya untuk mengkolektif pengakuan dari masyarakat bahwa korupsi merupakan masalah yang berat dan serius bagi suatu negara. Ada lima langkah untuk dapat mengkomunikasikan nilai integritas secara efektif dengan membangun kesadaran, mengembangkan ketertarikan, menyuguhkan rasa ingin tahu, mendorong tindakan antikorupsi, dan menciptakan advokasi.
Untuk mengajak masyarakat agar semangat mengangkat isu integritas, bisa dengan cara membuat konten dengan tema edukasi, hiburan, inspirasi dan persuasi dengan menggunakan riset, infografis atau lainnya.
Berdayakan Masyarakat
Bukan para pemimpin saja yang harus memiliki sikap integritas, namun seluruh masyarakat dari semua kalangan pun harus memilikinya. Oleh karena itu, pemimpin harus bisa memberdayakan masyarakat dengan beberapa cara yaitu;
Pertama, para pemimpin harus menjadi teladan bagi masyarakatnya. Kedua, bisa dengan mengadakan diskusi bersama yang sifatnya serius. Ketiga, saat melaporkan hasil kerja harus bersifat transparan, artinya harus disampaikan dengan jelas dan tidak ada hal yang ditutup-tutupi.
Baca juga: Kesehatan Anak Terancam, Bagaimana Rokok Menyebabkan Stunting
Keempat, pemimpin harus tegas dalam menyampaikan konsekuensi dari korupsi. Spekulasi negatif seperti tentang orang berpower yang kebal hukum itu sebisa mungkin harus dihindari dan dihapuskan. Tanamkan bahwa siapa saja yang terlibat korupsi harus merasakan hukuman yang seadil-adilnya. Terakhir, berikan edukasi secara terus menerus agar kesadaran masyarakat tentang korupsi dan konsekuensinya bisa terus meningkat.
Libatkan Komunitas
Elemen terakhir yaitu libatkan komunitas antikorupsi, karena komunitas antikorupsi merupakan salah satu platform ideal untuk saling bertukar informasi dan ide. Selain itu, kita dapat lebih mudah menyebarkan ilmu antikorupsi langsung ke masyarakat luas melalui sebuah komunitas.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membentuk komunitas antikorupsi, yaitu mengidentifikasi potensi anggota, melakukan pendekatan yang efektif, pengorganisasian berdasarkan potensi, pengembangan program, pemantauan progres dan mempertahankan hubungan sosial yang kuat.
Dengan demikian, para pemimpin harus menerapkan kelima elemen di atas karena sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi. (Alya/MGNG)
Sumber : aclc.kpk.go.id