Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius yang kian mengkhawatirkan di Indonesia, terutama bagi anak-anak yang berada pada masa pertumbuhan, penyebab utamanya yaitu karena malnutrisi yang berlangsung lama yaitu sejak 1000 hari pertama kehidupan.
Namun, siapa sangka di balik berbagai faktor penyebab stunting ada satu ancaman yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang, yaitu paparan asap rokok. Lalu, apa yang menyebabkan rokok dapat berperan dalam memicu stunting pada anak-anak?
Dilansir dari laman Kemenkes RI, perilaku merokok yang dilakukan oleh orang tua atau orang di sekitar anak, dapat berpengaruh pada terjadinya sunting.
Baca juga: Kenali Layanan Tarif Nol Rupiah akan Kebutuhan Data di BPS
Asap rokok yang dihasilkan tidak hanya berdampak pada kesehatan perokok itu sendiri, tetapi juga pada anak-anak yang terpapar sebagai perokok pasif.
Paparan ini dapat menghambat pertumbuhan seorang anak secara signifikan, karena zat-zat berbahaya dalam rokok seperti karbon monoksida, nikotin, tar, hidrogen sianida, benzena, formaldehida, arsenik, kadminum, serta amonia, dapat mempengaruhi proses perkembangan fisik dan kognitif anak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk berusia di bawah 18 tahun yang merokok tembakau di Indonesia tercatat sebesar 3,69% pada tahun 2021. Angka ini mengalami penurunan menjadi 3,44% pada tahun 2022, namun kembali meningkat menjadi 3,65% pada tahun 2023.
Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Bernie Endyarni Medise menjelaskan, bahwa terdapat dua cara utama yang dapat menyebabkan stunting pada anak akibat paparan asap rokok.
Baca juga: Menjadi Sekutu dalam Era Digital: Mari Lawan Cyberbullying
Pertama, asap rokok dapat menghambat penyerapan nutrisi pada anak sehingga menganggu proses tumbuh kembang mereka, dan yang kedua dari biaya belanja rokok sehingga mengurangi jatah kebutuhan pokok anak. Misalnya, mengurangi pembelian nutrisi dan menunda jatah asupan gizi yang dibutuhkan anak.
“Asap rokok mengganggu penyerapan gizi pada anak, yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembangnya. Pengaruh perilaku merokok yang kedua, dilihat dari sisi biaya belanja rokok, membuat orang tua mengurangi “jatah” biaya belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan dan seterusnya,” ujar Dr. Bernie Endyarni Medise dikutip dari laman Kemenkes RI.
Dilansir dari laman Kemenkes RI, anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan orang tua perokok cenderung mengalami pertumbuhan yang lebih lambat, baik secara berat badan maupun tinggi badan.
Kondisi ini berpotensi anak mengalami stunting 5,5% lebih tinggi, berbanding terbalik dengan anak-anak yang tinggal dari lingkungan bebas asap rokok, mereka memiliki berat badan 1,5 kg lebih berat dan tinggi badan 0,34 cm lebih tinggi dibandingkan mereka yang tinggal bersama perokok.
Lindungi masa depan anak-anak kita, ketahui bagaimana rokok diam-diam menjadi penyebab stunting. Yuk warga sedulur Banten, pahami bahaya rokok bagi tumbuh kembang anak dan bersama-sama ciptakan lingkungan sehat untuk mereka (Ifaa/MGMG).
Artikel lainnya dapat diakses di sini
Sumber :
1. Kemenkes RI
2. Badan Pusat Statistik