Bahasa daerah memiliki peranan penting dalam pemajuan kebudayaan sekaligus sebagai identitas kearifan lokal dari nenek moyang terdahulu dan juga sebagai identitas suatu daerah.
Bahasa telah melahirkan beragam unsur kebudayaan dari mulai ritus kehidupan, tradisi dan lainnya. Di Banten terdapat beragam budaya dan bahasa yang berkembang dan dilestarikan sampai saat ini.
Baca Juga: Pulau Burung
Sedikitnya ada 14 ragam dialek bahasa daerah yang ada di Provinsi Banten berdasarkan hasil pemetaan dari Kantor Bahasa Provinsi Banten diantaranya:
1. Bahasa Jawa Dialek Cirebon Bahasa Jawa
Bahasa Jawa di Pulau Jawa dituturkan oleh etnik Jawa salah satunya di Provinsi Banten. Bahasa Jawa dialek Cirebon adalah bahasa Jawa yang digunakan di daerah Cirebon dan sekitarnya.
Di Pandeglang terdapat kantung bahasa Jawa dialek Cirebon yaitu di kampung Cangkore, Kelurahan Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik. Kantung bahasa Jawa Cirebon ini terjadi karena adanya bedol desa yang dilakukan di desa daerah pantura Indramayu daerah kecamatan Patrol dan sekitarnya.
Baca Juga: Ini Dia 5 Elemen Penting untuk Bangun Kepedulian Masyarakat dalam Memberantas Korupsi
Bahasa ini memiliki kekhasan penggunaan artikel -jeh ketimbang -geh yang kerap muncul di bahasa Jawa Dialek Serang. Memiliki kemiripan dengan bahasa Jawa Dialek Serang, terutama pada penggunaan pelafalan akhiran [a] pada kata seperti sira, ora, dan teka.
Bahasa Jawa Dialek Cirebon memiliki persentase perbedaan yang berkisar 62,5% (beda dialek) jika dibandingkan dengan bahasa Jawa Dialek Cirebon yang tersebar di wilayah lain.
2. Bahasa Jawa Dialek Pantura
Bahasa Jawa Dialek Pantura dituturkan di sepanjang pesisir utara Banten mulai dari timur sampai ke barat, yaitu Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Serang.
Ciri khas dialek ini digunakannya akhiran -em atau nem (dengan e pepet) menggantikan akhiran -mu dalam bahasa Jawa untuk menyatakan kata ganti posesif orang kedua tunggal.
3. Bahasa Jawa Dialek Cikoneng
Bahasa Jawa Dialek Cikoneng dituturkan oleh masyarakat di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang. Bunyi akhiran [o] muncul pada bahasa Jawa Dialek Cikoneng ketimbang akhiran [a] dan [e].
Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kedua dialek tersebut sebesar 55%.
4. Bahasa Jawa Dialek Serang
Dalam bahasa Jawa dialek Serang, pengucapan huruf 'e', ada dua versi. Ada yang diucapkan 'e' saja, seperti pada kata "teman". Ada juga yang diucapkan 'a', seperti pada kata "Apa".
Daerah yang melafalkan 'a' adalah kecamatan Keragilan, Kibin, Cikande, Kopo, Pamarayan, dan daerah timurnya. Sedangkan daerah yang melafalkan 'e' adalah kecamatan Serang, Cipocok Jaya, Kasemen, Bojonegara, Kramatwatu, Ciruas, Anyer, dan seberang baratnya.
5. Bahasa Jawa Dialek Bebasan
Bahasa Jawa Dialek Bebasan Banten adalah bahasa Jawa yang telah mengalami akulturasi dengan kebudayaan Sunda Banten. Menurut sejarahnya, bahasa Jawa Banten atau Bebasan Banten mulai dituturkan di zaman Kesultanan Banten pada abad ke-16 sekitar 1526 pada awal terbentuknya Kesultanan Banten di bawah kepemimpinan Maulana Hasanuddin.
Bahasa Jawa Dialek Bebasan biasanya digunakan pada forum-forum resmi dan ucapan hormat kepada yang lebih tua. Dialek Bebasan terdengar lebih lembut, berwibawa, dan hangat.
6. Bahasa Sunda Dialek Pandeglang
Bahasa Sunda Pandeglang adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang digunakan sebagai bahasa tuturan masyarakat di wilayah Banten Selatan, terutama Kabupaten Pandeglang. Bahasa Sunda Pandeglang memiliki perbedaan struktur atau tata bahasa yang memiliki karakteristiknya tersendiri.
Contohnya pada kata lanjutan seperti "geh", "bae", "burung", "abeu" dan lain-lain. Dialek [o] dituturkan oleh masyarakat di dua daerah di Kabupaten Pandeglang, yaitu Desa Cibingbin, Kecamatan Cibaliung dan Desa Tembong, Kecamatan Carita.
7. Bahasa Sunda Dialek Lebak
Bahasa Sunda Dialek Lebak adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang digunakan sebagai bahasa tuturan masyarakat di wilayah Banten selatan, terutama Kabupaten Lebak. Bahasa yang diakui sebagai bahasa tertua bahasa Sunda yakni di Suku Baduy, Kabupaten Lebak.
Bahasa Sunda Lebak umumnya tidak mengenal tingkatan, dikarenakan wilayah Banten tidak pernah berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram.
8. Bahasa Sunda Dialek Baduy
Bahasa Sunda dialek Baduy adalah nama yang diberikan dalam rumpun bahasa Austronesia yang umumnya dituturkan oleh suku Baduy di sebagian wilayah Banten, Indonesia. Penuturnya tersebar di wilayah sekitar Gunung Kendeng, Kabupaten Lebak.
Bahasa Badui memiliki sekitar 11.620 penutur jati pada tahun 2015. Bahasa Sunda Dialek Baduy hanya mendapatkan sedikit pengaruh dari bahasa lainnya dan masih mempertahankan beberapa unsur-unsur kebahasaan dari bahasa Sunda kuno sebagai pendahulunya.
9. Bahasa Sunda Dialek Tangerang
Bahasa Sunda Tangerang adalah salah satu varietas bahasa Sunda yang umumnya dituturkan di sebagian wilayah Kabupaten Tangerang. Bahasa ini memiliki beberapa karakteristik tersendiri bila dibandingkan dengan bahasa Sunda lulugu (baku).
Meskipun begitu, secara umum, perbedaan bahasa Sunda Tangerang dengan bahasa Sunda baku hanya sebatas perbedaan kosakata. Pada umumnya, bahasa Sunda Tangerang tidak mengenal tingkatan berbahasa.
Baca: Ayo Perangi TBC
Hal yang berbeda dengan bahasa Sunda baku menyangkut perubahan vokal /eu/ pada beberapa kosakata bahasa Sunda baku menjadi /a/ pada bahasa Sunda Tangerang.
10. Bahasa Melayu Dialek Betawi
Bahasa Betawi adalah bahasa Melayu dialek Betawi yang digunakan penutur di wilayah kota Tangerang Selatan. Bahasa itu oleh masyarakat Tangerang disebut bahasa Melayu Betawi.
Bahasa Melayu yang ada di Kota Tangerang merupakan dialek Betawi Pinggiran (Ora) karena daerahnya berbatasan dengan penutur bahasa Sunda.
Dialek Betawi Pinggiran (Ora) dituturkan di Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu. Dialek Betawi juga digunakan di Kelurahan Buaran dan Ciater Barat di Kecamatan Serpong, Kelurahan Pamulang Timur dan Pondok Benda di Kecamatan Pamulang, dan Kelurahan Pondok Ranji di Kecamatan Ciputat Timur.
11. Bahasa Melayu Dialek Cina Benteng/Bentengan
Dialek Cina Benteng mengacu kepada masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Tangerang, Provinsi Banten. Nama "Tionghoa Benteng" berasal dari kata "Benteng", nama lama Kota Tangerang.
Pada praktik berbahasa sehari-hari, Cina Benteng menuturkan bahasa Cina varian Hokkian, sedikit Khek, dan bahasa Indonesia dengan banyak serapan kosakata dari bahasa daerah yang bersinggungan erat yaitu bahasa Sunda Serang, bahasa Jawa, dan bahasa Betawi Ora.
Baca: Mengenal Syekh Nawawi Ulama Dunia dari Tanara
Melayu Bentengan adalah bahasa melayu dengan campuran bahasa Hokkian (daerah fujian Selatan China) dengan bahasa Sunda dan bahasa Melayu dialek Betawi yang digunakan oleh masyarakat Tionghoa Bentengan di wilayah Kelurahan Sukasari, Kelurahan Babakan, Kelurahan Kelapa Indah di Kecamatan Tangerang, Kelurahan Neglasari, Kecamatan Neglasari dan di Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Karawaci. Semuanya ada di Kota Tangerang.
12. Bahasa Lampung Cikoneng
Bahasa Lampung Cikoneng berasal dari Provinsi Lampung. Bahasa itu dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Lampung di Kabupaten Serang dengan bahasa Lampung di Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan perbedaan bahasa dengan persentase di atas 81%. Bahasa Lampung ini dinamakan bahasa Lampung Cikoneng. Istilah Cikoneng merujuk di mana banyak warga yang menggunakan dialek Bahasa Lampung
13. Bahasa Bugis
Keberadaan orang Bugis di Banten jumlahnya terus bertambah karena migrasi dan perkawinan beda suku.
Selain tujuan berdagang, kedatangan masyarakat Bugis juga didasari keingian mereka untuk menjadi murid Syaikh Yusuf; seorang ulama yang terdengar kemasyhurannya di Nusantara.
Selain di Karangantu, masyarakat Bugis juga tersebar di beberapa wilayah di Provinsi Banten. Pada umumnya mereka tinggal di pesisir karena berprofesi sebagai nelayan pasca peralihan profesi dari berdagang kayu.
Persebaran jumlah mereka sangat variatif. Jumlah masyarakat Bugis berdasarkan data tahun 2022 yang dihimpun oleh Kantor Bahasa Provinsi Banten yang paling banyak ada di Karangantu, yaitu terdiri atas 2 RW. Di RW 005 warga Bugis berjumlah 20 kepala keluarga, sementara di RW 006, berjumlah 80 % dari jumlah penduduk sehingga disebut Kampung Bugis.
Bahasa yang digunakan merupakan bahasa Bugis percakapan atau disebut juga bahasa Bugis kasar. Beberapa kosakata juga masih menggunakan bahasa Bugis Halus atau disebut juga bahasa Bugis Bone.
Jumlah masyarakat penutur bahasa Bugis hanya 20 kepala keluarga di RW 005 membuat penuturnya memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentunya memengaruhi eksistensi bahasa Bugis.
BACA: 6 Persiapan Menghadapi Musim Hujan
Bahasa bugis hanya digunakan oleh penutur yang berusia 50 tahun ke atas, sedangkan usia 50 tahun ke bawah hanya sebagai penutur pasif. Bahkan generasi muda sangat terbatas yang dapat berbahasa Bugis.
Berbeda dengan kampung Bugis yanga ada di RW 005, masyarakat Bugis yang ada di RW 006 menggunakan bahasa Bugis dalam kehidupan sehari-hari karena jumlah penuturnya yang dominan dibanding dengan bahasa lain.
Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Bugis yang ada di Provinsi Banten dengan Bahasa Bugis yang ada di Makasar, Sulawesi Selatan memiliki perbandingan 64%
14. Bahasa Minang
Masyarakat Minang yang ada Kecamatan Jombang Cilegon terdiri atas 3 RW yang merupakan pecahan dari satu RW. Pemekaran RW ini dilandaskan pada jumlah warga yang terus bertambah.
BACA: Titik Nol KM Anyer
Kehadiran orang Minang di Banten semakin bertambah dan membentuk sebuah kampung pada tahun 1997-an. Beberapa orang Minang yang sudah lebih dulu di Banten membeli beberapa bidang sawah dan membuat kavling untuk dibangun rumah.
Kavling tersebut dikhususkan atau diutamakan untuk orang Minang pendatang yang belum memiliki rumah. Kehadiran mereka di Banten bertujuan untuk berdagang.
Munculnya nama Kampung Padang berasal dari sebutan oleh orang luar terhadap kampung tersebut sebab rata-rata penduduknya bersuku Minang.
Orang Minang yang tersebar di Banten cenderung mencari komunitas sesama Minang sehingga semakin banyak yang pindah dari pesisir Banten ke Kampung Padang tersebut. Pada umumnya masyarakat Minang yang ada di Kampung Padang adalah masyarakat Minang Solok.
BACA: Masjid Kasunyatan, Bukti Bakti Sultan Banten Kepada Sang Guru
Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Minang, khususnya penutur yang usia 30 tahun ke atas. Sementara generasi muda sebagai penutur pasif. Pewarisan bahasa Minang dilakukan oleh orang tua kepada anak melalui percakapan di dalam rumah.
Selain itu, pewarisan bahasa dan budaya Minang juga dilakukan dengan berbagai kegiatan kebudayaan yang rutin dilakukan, tetapi sempat berhenti selama pandemi covid-19.
Perkawinan beda suku, interaksi dengan suku lain dan silang budaya turut serta mempengaruhi bahasa Minang yang ada di Provinsi Banten. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Minang yang ada di Provinsi Banten dengan Minang yang ada di Sumatera Barat memiliki perbandingan 54% atau beda dialek.
Sumber: Buku jumlah Bahasa/dialek Bahasa yang terpetakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Banten