Indonesia pernah mengalami gejolak ekonomi, seperti adanya fenomena inflasi dan stagflasi. Inflasi merupakan keadaan dimana harga jasa dan barang naik secara umum dalam jangka waktu tertentu. Sementara stagflasi merupakan kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat, namun harga terus naik.
Dampak dari inflasi dan stagflasi ini dapat mempengaruhi terhadap turunnya daya beli masyarakat serta meningkatnya jumlah pengangguran. Menurut data yang dikutip dari website resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, terhitung sejak Agustus 2024, Indonesia mengalami inflasi tahunan sebesar 2,12% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,06.
Baca juga: Makanan Murah-meriah Pencegah Stunting
Inflasi yang terjadi dapat diakibatkan oleh harga yang naik karena adanya peningkatan mayoritas indeks kelompok pengeluaran seperti makanan dan minuman, perumahan, kesehatan, transportasi, pendidikan dan rekreasi.
Sedangkan untuk angka stagflasi, di Indonesia masih belum jelas terdeteksi, namun masyarakat tetap perlu waspada terhadap kemungkinan terjadinya stagflasi.
Di Provinsi Banten sendiri, sejak Agustus 2024 angka inflasi tercatat masih stabil, dengan angka sebesar 2,45%. Perhitungan inflasi diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menggambarkan transisi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga.
Contoh sederhana inflasi dalam kehidupan sehari-hari ketika harga bahan makanan naik. Misalnya, di tahun 2022 dengan uang Rp 20.000, kamu bisa membeli sepuluh buah kue basah, namun di tahun 2024 dengan jumlah uang yang sama, kamu hanya dapat membeli sembilan buah kue dengan ukuran berbeda dari sebelumnya.
Meskipun saat ini fenomena inflasi di Indoensia masih stabil, namun penting bagi kita untuk bisa mengatur strategi keuangan yang baik untuk menghadapi masalah inflasi dan stagflasi di masa mendatang. Berikut beberapa cara agar kita siap menghadapi gejolak inflasi dan stagflasi.
Memisahkan antara kebutuhan dan keinginan
Hal pertama yang dapat dilakukan adalah memisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan pokok seperti tempat tinggal, makanan dan transportasi harus dijadikan sebagai anggaran utama. Sedangkan barang-barang yang bersifat konsumtif atau kurang penting, lebih baik ditunda sampai keadaan ekonomi lebih stabil.
Mencari sumber pendapatan tambahan
Di tengah ketidakstabilan ekonomi, mencari sumber penghasilan tambahan juga sangat penting untuk dilakukan. Kita bisa memulainya dari membuka usaha skala kecil terlebih dahulu melalui platform digital seperti e-commerce atau media sosial, selain itu kita juga bisa bekerja sebagai freelancer. Maka dari itu, potensi kerugian finansial dapat dikurangi dan tabungan bisa tetap terjaga.
Mempersiapkan dana darurat
Dana darurat dibutuhkan saat kebutuhan mendesak, artinya hal ini sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Dana darurat bisa dikatakan ideal apabila sekurang-kurangnya mencakup enam bulan biaya hidup untuk yang belum menikah atau dua belas bulan bagi yang sudah berkeluarga. Ini menjadi penolong jika terjadi keadaan darurat seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau adanya pemotongan gaji.
Mulai menabung dengan berinvestasi
Untuk menghindari dampak dari inflasi, kita bisa mengalokasikan sebagian dana di beberapa instrument investasi yang aman, sehingga memberikan keuntungan lebih tinggi dari tingkat inflasi.
Namun sebelum berinvestasi, penting untuk memahami risikonya. Jangan menaruh banyak dana di investasi yang berisiko tinggi. Oleh karena itu, terdapat strategi yang bisa kamu lakukan untuk mensiasati kerugian dalam berinvestasi, yaitu Hedging.
Apa itu Hedging? Dilansir dari website resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hedging dalam dunia investasi merupakan strategi yang biasa dilakukan oleh para investor dalam meminimalisir kerugian yang akan dihadapi di kondisi ekonomi yang tidak bisa diprediksi.
Ada dua cara yang bisa dilakukan saat melakukan strategi ini yaitu diversifikasi dan average down dana investasi. Diversifikasi merupakan point penting dalam menghadapi situasi tidak pasti.
Baca Juga: Ayo Kenali Perbedaan Gratifikasi, Hadiah dan Suap
Jangan menaruh semua dana ke dalam satu instrument investasi, alangkah lebih baiknya jika dana tersebut disebar ke berbagai sektor seperti obligasi, emas dan saham.
Dengan begitu, akan lebih minim mengalami risiko kerugian ketika salah satu sektor mengalami penurunan, karena kamu masih ada kemungkinan mendapatkan keuntungan dari sektor lain.
Sedangkan average down merupakan kegiatan membeli lebih banyak aset saat harganya turun. Menyesuaikan gaya hidup dengan kondisi ekonomi yang ada.
Baca: Kecerdasan Buatan sebagai Pedang Bermata Dua dalam Pendidikan
Terakhir, sangat penting untuk menyesuaikan gaya hidup kamu dengan dana yang ada. Kamu bisa menghemat energi di rumah, mengurangi kebiasaan membeli barang yang tidak dibutuhkan, dan harus memaksimalkan pemakaian sumber daya yang ada. Dengan begitu, kemungkinan besar keuangan kamu akan tetap stabil dalam gejolak inflasi dan stagflasi.
Dengan mengaplikasikan cara diatas, kamu dapat meminimalisir dampak negatif inflasi dan stagflasi, serta lebih siap menghadapi gejolak ekonomi di masa mendatang. (Alya/MGNG).
Artikel lainnya di sini
Sumber :
1. ojk.go.id
2. bantenprov.go.id
3. bps.go.id