Memasuki bulan Kawalu (Penanggalan bulan adat Baduy) yang berlangsung pada Selasa 20 Januari 2026, Kawasan Baduy Dalam ditutup. Penutupan ini berlangsung hingga tiga bulan ke depan.
Pemberitahuan ini disampaikan dalam surat Nomor 521/018/Ds-Kan-2001/1/2026 yang dikeluarkan Kantor Kepala Desa Adat Kanekes dan ditandatangani oleh Jaro Oom (Kepala Desa Adat Kanekes)
“Diberitahukan dengan hormat, sehubungan di Baduy akan segera memasuki bulan Kawalu, oleh karena itu kami Kepala Desa Adat Kanekes beserta lembaga adat Baduy memberitahukan bahwa disetiap bulan Kawalu Baduy Dalam ditutup selama tiga bulan terhitung dari tanggal 1 bulan Kawalu yang jatuh pada Selasa 20 Januari 2026,” tulis informasi yang tertuang dalam surat tersebut.

Kunjungan bisa dilakukan apabila ada urusan khusus dan perorangan dengan maksimal di bawah 10 orang serta didampingi langsung oleh Jaro Oom selaku kepala Desa Adat kanekes.
“Tetap bisa berkunjung ke Baduy Dalam jika ada urusan khusus dan perorangan atau maksimal dibawah 10 orang, namun harus didampingi langsung oleh Kelapa Desa Adat Kanekes (Jaro Oom),” lanjutan pemberitahuan dalam surat.
Meski adanya penutupan Kawasan Baduy Dalam selama Kawalu, Saba Budaya Baduy masih bisa dilakukan di Kawasan Baduy Luar, di antaranya:
Pemerhati Budaya Banten, Rohendi mengatakan, Kawalu adalah salah satu cara membersihkan diri dan jiwa yang berlangsung selama tiga bulan.
“Selama tiga bulan itu, ada satu hari mereka (Urang Kanekes Baduy) diwajibkan untuk berpuasa sesuai dengan keturunannya;Kawalu Tembey, Nengah dan Tutug,” kata Rohendi.
Kawalu dimulai berdasarkan perhitungan kalender Baduy, dan akhir Kawalu biasanya sudah memasuki musim panen.
“Setelah Kawalu biasanya Ngalaksa, setelah Ngalaksa lalu Seba. Larangan Kawalu dulu Urang Kanekes Baduy tidak boleh keluar dan tidak boleh menerima tamu, tidak banyak bicara, kini tradisi ini hanya dilakukan oleh Baduy Dalam,” ujarnya.
Di momentum pelaksanaan tradisi Kawalu Baduy, ia mengajak masyarakat untuk menghargai adat dan budaya Baduy yang sudah turun temurun dilakukan.
“Harapannya mari kita hargai mereka,” pintanya.
Warga sedulur Banten, ayo kita hargai bersama kearifan lokal dan budaya yang sudah lama dijalankan oleh urang Kanekes Baduy.
Sumber: Wawancara Pemerhati Budaya Banten & surat pemberitahuan dari Kepala Adat Desa Kanekes