Produk kearifan lokal Baduy jadi primadona yang menyita perhatian peserta Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, Senin (9/2/2026),
Para jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia terlihat antusias mempelajari budaya lokal, salah satunya cara memakai Lomar (ikat kepala) khas Baduy.
Bagi para peserta, kain Lomar bukan sekadar suvenir. Ada rasa bangga saat kain biru motif khas Baduy itu melingkar di kepala mereka.
Warga Baduy Luar, Pandi bercerita bahwa produk yang paling diburu adalah lomar biru, tas koja, dan madu hutan.
Namun, hal yang paling berkesan baginya adalah interaksi saat para peserta meminta diajarkan cara memakai ikat kepala yang benar.
"Yang paling laris itu lomar warna biru, tenun, madu, dan tas koja. Banyak yang minta langsung dipakaikan di kepala," kata Pandi
"Semoga setelah ini, masyarakat luar lebih mengenal dan mencintai Baduy," sambungnya
Peserta HPN dari PWI Riau, Yulis sangat antusias belajar cara mengenakan ikat kepala Baduy.
Ia beberapa kali gagal membuat ikat kepala hingga akhirnya lancar dan kain Baduy melilit sempurna di kepalanya berkat bantuan dari Pandi Baduy.
Dengan telaten, Pandi mengajarkan cara membuat ikat kepala Baduy,
Yulis mengaku meski sempat batal berkunjung langsung ke Desa Kanekes, kehadirannya di stand UMKM Baduy ini sudah cukup mengobati kerinduannya datang ke Baduy.
"Kemarin batal ke Baduy, tapi sekarang sudah puas. Rasanya sudah jadi 'orang Baduy' walau sementara," ujar Yulis.
Ia juga memuji keramahan warga Banten dan cita rasa kulinernya yang unik.
Antusiasme ini juga dirasakan oleh Juharsah dari PWI Lampung, ia merasa nyaman mengenakan lomar sebagai bentuk apresiasi budaya.
"Rasanya enak, nyaman. Kami sangat menghargai kebudayaan ini," ungkapnya.
Senada dengan Juharsah, Iyan Aswuka dari PWI Sumatera Utara mengaku akan tetap memakai ikat kepala Baduy di dalam pesawat dan di kampung halamannya di Sumatra Utara.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti memang sengaja membawa miniatur kehidupan Baduy ke tengah keriuhan HPN.
Eli menyebut kehadiran bangunan leuit (lumbung padi) dan pengrajin tenun asli Baduy sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa Banten memiliki kekayaan adat yang tetap relevan di era modern.
Perhelatan nasional yang digelar di Banten ini, menjadi ajang silaturahmi bagi insan pers nasional, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi pelaku UMKM di Banten.
Dijelaskan Eli, panitia penyelenggara turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta HPN 2026 yang telah berkunjung dan memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di Banten.
Harapannya satu, saat para wartawan ini kembali ke daerah masing-masing, mereka tidak hanya membawa berita, tetapi juga membawa cerita hangat tentang keramahtamahan Banten, budaya, dan kulinernya sebagai kenangan.