Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Banten Tinawati Andra Soni menyampaikan bahwa masih banyak ditemukan kasus penularan HIV/AIDS di kabupaten dan kota. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi di ranah keluarga serta anak-anak, khususnya di kalangan pelajar, terkait pemahaman tentang HIV/AIDS.
Hal tersebut disampaikan Tinawati usai menerima audiensi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di Gedung PKK Provinsi Banten, KP3B Curug, Kota Serang, Selasa (27/1/2026). Dalam pertemuan tersebut, KPA memaparkan sejumlah program yang dapat dikolaborasikan dengan PKK.
“Insya Allah nanti coba kita formulasikan supaya sama-sama bisa dijalankan dengan baik, khususnya di ranah anak-anak, pengetahuan tentang hubungan seksual dan penularan penyakit melalui hubungan seksual dan lain sebagainya,” ujarnya.
Tinawati menegaskan bahwa poin penting dalam pertemuan bersama KPA adalah tingginya penularan HIV/AIDS di berbagai wilayah di Provinsi Banten. Karena itu, penguatan peran keluarga dan edukasi kepada anak-anak, khususnya melalui jalur pendidikan menjadi sangat penting.
Tinawati juga menekankan bahwa anak-anak dan remaja cenderung lebih mudah menerima informasi dari teman sebayanya. Pendekatan sebaya dinilai efektif sebagai bentuk edukasi langsung dalam pencegahan penularan HIV/AIDS.
Sementara itu, Sekretaris KPA Provinsi Banten dr Santoso Edi Budiono mengatakan audiensi dengan PKK dilakukan karena bagian dari keanggotaan KPA. KPA ingin terlibat aktif dalam program PKK Mengajar untuk membuka pemahaman masyarakat melalui sosialisasi dan pencegahan, sehingga diharapkan dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS.
"Stigma dan diskriminasi masih menjadi salah satu penghambat utama dalam upaya penemuan dan pengobatan penderita HIV/AIDS," ujarnya.
Ia menjelaskan, KPA saat ini bekerja dari hulu melalui kegiatan sosialisasi dan pencegahan. Hal tersebut menjadi perhatian serius karena Indonesia berada di peringkat keempat belas dunia dalam penyebaran HIV/AIDS. Sementara itu, dari 73 persen kasus HIV/AIDS di Indonesia, sebanyak 11 provinsi menjadi penyumbang utama termasuk Provinsi Banten yang berada di posisi kesembilan.
Terkait edukasi HIV/AIDS, pendidikan dapat dimulai sejak tingkat sekolah dasar atau sekolah menengah pertama melalui edukasi kesehatan reproduksi. Ke depan, menurutnya diperlukan kurikulum yang mudah dipahami oleh siswa karena pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah masih bersifat pengantar dan belum menyentuh aspek teknis pencegahan.
"Karena itu pentingnya perhatian bersama untuk mencapai target triple zero pada tahun 2030. Dengan tercapainya triple zero, diharapkan Indonesia memiliki generasi yang lebih baik menuju Indonesia Emas 2045," pungkasnya.