11 May 2026
12 dilihat
Sumber Gambar : Tanam Jagung Berdampak Pada Alih Fungsi Lahan? Ini Faktanya
Isu alih fungsi lahan pertanian menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpengaruh langsung pada ketahanan pangan. Pemerintah Provinsi Banten mendorong perlindungan lahan pertanian agar tetap produktif dan tidak beralih fungsi secara tidak terkendali.
Upaya ini dilakukan melalui pengendalian pemanfaatan ruang dan koordinasi dengan instansi terkait.
Baca Juga: Gubernur Andra Soni Canangkan Gerakan Tanam Jagung untuk Ketahanan Pangan di Banten
Apakah gerakan tanam jagung akan mengganggu lahan pertanian?
- Perluasan areal tanam difokuskan pada lahan yang belum produktif, seperti lahan tidur, lahan bekas tambang yang direklamasi, serta kawasan kehutanan produksi dengan pola tumpangsari. Jadi bukan membuka lahan dari sawah aktif.
- Pendekatan ini dilakukan agar program peningkatan produksi tetap berjalan tanpa mengurangi luas lahan pertanian yang sudah ada.
Tujuan Gerakan Tanam Jagung
- Meningkatkan produksi dan produktivitas jagung melalui percepatan dan perluasan areal tanam secara terkoordinasi guna mendukung ketahanan pangan dan penyediaan bahan baku pakan
- Mengoptimalkan pemanfaatan lahan potensial
- Meningkatkan pendapatan petani
- Mengurangi ketergantungan terhadap impor melalui penguatan produksi jagung dalam negeri.
Lahan yang digunakan dalam perluasan areal tanam baru jagung hibrida
- Lahan tidur yang belum termanfaatkan (Koordinasi dengan stakeholder terkait lahan perhutani/kawasan kehutanan produksi sebagai tanaman sisipan
- Tumpangsari (agroforestry) di sela tegakan muda (jati, mahoni dan lainnya)
- Lahan bekas tambang dengan pola reklamasi + revegetasi produktif
- Lahan milik pemerintah/masyarakat yang belum dimanfaatkan optimal (lahan tidur, semak, eks kebun dan lainnya).
Gerakan menanam jagung untuk pakan ternak dilakukan di beberapa wilayah di Banten guna mendukung swasembada pangan jagung. Hal ini dilakukan untuk mendorong Provinsi Banten menjadi produsen utama jagung nasional setelah beras.
Baca Juga: Dampingi Wapres Tanam Jagung, Gubernur Andra Soni Tegaskan Swasembada Pangan Terwujud di Banten
Provinsi Banten saat ini memiliki 14 pabrik pakan ternak yang membutuhkan 4.000 ton jagung per hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pemprov Banten didukung oleh Kementerian Pertanian dan para pihak yang akan mengembangkan 9.000 hektare lahan kosong untuk ditanami jagung.
Pencanangan penanaman jagung ini diharapkan supaya Banten ke depan bisa menjadi sentra jagung. Minimal untuk kebutuhan industri dan pertanian di daerah sendiri.
“Target produksi yang kita harapkan 52.000 ton jagung pipil kering,” kata Gubernur Banten, Andra Soni dilansir dari Press Release Biro Adpimpro Banten.
Wilayah Penghasil Jagung Terbanyak di Banten
Kabupaten Pandeglang
- Jagung yang dihasilkan mencapai 20.047 ton/69,44% dari total produksi jagung Banten.
- Ketersediaan dan luas lahan di Pandeglang memenuhi kriteria untuk budidaya jagung; baik pada lahan tegalan maupun lahan sawah tadah hujan
- Menjadi sentra utama pengembangan jagung di Banten
- Areal tanam jagung di Pandeglang tersebar di Kecamatan Cikeusik, Cimanggu dan Cigeulis
Kabupaten Lebak
- Jagung yang dihasilkan mencapai 4.533 ton dengan kontribusi 15,70%.
- Produksi jagung di wilayah ini memanfaatkan potensi lahan kering dan lahan sela, meskipun pola tanam jagung belum dilakukan secara berkelanjutan karena keterbatasan modal dan sarana produksi di tingkat petani
- Perluasan area tanam baru di Desa Bulakan, Kecamatan Gunung Kencana berkerjasama dengan Perhutani yang implementasinya dilakukan melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Kabupaten Serang
- Produksi jagung mencapai 3.554 ton, berkontribusi 12,31% terhadap total produksi jagung Banten
- Pengembangan jagung di Kabupaten Serang bersifat musiman dan mengikuti program bantuan pemerintah, terutama pada areal yang tidak ditanami padi pada musim tertentu
- Sentra kawasan jagung yang memanfaatkan perluasan areal tanam baru (Desa Pagintungan dan Desa Cemplang).
Jumlah produksi jagung yang dihasilkan di Banten tahun 2025
- Produksi jagung di Banten tahun 2025 mencapai 28.869 ton dengan luas panen 5.117 hektare
- Produktivitas rata-rata 5,42 kuintal per hektare (Angka sementara).
Capaian ini menunjukkan bahwa komoditas jagung di Banten masih bersifat komplementer dan sangat dipengaruhi oleh dukungan program pemerintah, khususnya dalam penyediaan sarana produksi.
Bagaimana menurut warga sedulur Banten perihal gerakan tanam jagung di Banten? Apakah setuju Provinsi Banten menjadi produsen utama jagung nasional setelah beras? Share informasi ini agar warga sedulur Banten mengetahui update informasi seputar kebijakan Pemprov Banten.
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Banten & Press Release Biro Adpimpro Banten
Bagikan Artikel
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber bantenprov.go.id