Urang Kanekes Baduy memiliki beragam keterampilan tidak hanya dalam berladang, dan menjaga norma sosial leluhur saja tetapi juga mahir dalam membuat kerajinan tangan berbasis kearifan lokal, salah satunya tas Kepek.
Tas Kepek buatan tangan Urang Kanekes Baduy dibuat dari kulit pohon saray. Pohon Saray banyak tumbuh di wilayah Baduy Dalam. Tas Kepek memiliki fungsi sebagai tas hantaran mas kawin dalam pernikahan adat Urang Kanekes.
Baca juga: Capaian Penanganan Kemiskinan Ekstrem Banten
Berbeda dengan tas Koja yang lebih umum dikenal oleh masyarakat luas, tas Kepek masih jarang ditemukan keberadaannya di Baduy. Hal ini disebabkan proses produksi tas Kepek terbatas, tidak seperti tas Koja.
Penyebabnya karena faktor bahan dasar pembuatan tas Kepek yang langka serta membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama dibandingkan tas Koja. Hal lainnya dikarenakan fungsi tas Kepek lebih eksklusif dibandingkan tas Koja.
Baca juga: Waktu Tergadaikan, Korupsi yang Membelenggu Kemajuan
Apabila tas koja dapat digunakan dalam berbagai kegiatan urang Kanekes, maka tas kepek fungsinya hanya sebagai tas hantaran mas kawin dalam pernikahan adat urang Kanekes Baduy.
Meskipun memiliki fungsi ritus dalam adat pernikahan urang Kanekes Baduy, namun tas Kepek dapat digunakan pula untuk kegiatan lainnya, seperti bepergian, atau menjajakan hasil bumi, sebagai tempat membawa perbekalan dan pakaian, atau benda lainnya yang dianggap berharga seperti uang atau perhiasan.
Baca juga: 5 Budaya Banten Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda
Sedangkan untuk kepentingan lainnya, tas Kepek yang digunakan biasanya berukuran lebih kecil daripada tas Kepek hantaran mas kawin.
Berdasarkan tampilannya, tas Kepek berbentuk persegi panjang yang terbuat dari anyaman bambu yang dilapisi oleh kulit pohon saray. Keberadaan tas Kepek dapat ditemukan di beberapa kampung di wilayah Kenekes Dalam, salah satunya adalah Kampung Cibeo.
Warga sedulur Banten, mari kita jaga, mencintai dan lestarikan kearifan lokal Banten sebagai bagian dari merawat warisan budaya bangsa.
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id