Halo warga sedulur Banten! Pernah gak sih melihat pertunjukan tabuhan bedug yang diiringi dengan musik dan tarian? Nah, pertunjukan itu disebut dengan Rampak Bedug yang berasal dari Banten, lho.
Tak hanya menjadi bagian dari budaya Banten, kesenian ini juga menjadi simbol keharmonisan dalam menyambut momen-momen penting.
Di balik Tabuhan Bedug Penuh Makna
Kata “Rampak” merujuk pada makna serempak yang termanifestasi dalam setiap penabuhan bedug yang dilakukan secara bersamaan. Bedug merupakan alat yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau. Bedug biasa dijumpai di masjid yang digunakan untuk menyerukan panggilan shalat.
Namun, pada kesenian Rampak Bedug, fungsi bedug yang ditabuh oleh sejumlah penari berperan sebagai media ekspresi budaya yang menyatu dengan tarian dan iringan musik yang indah.
Dijelaskan dari berbagai sumber, pertunjukan Rampak Bedug pertama kali digelar sekitar tahun 1950-an di Pandeglang. Penambahan tarian kreatif oleh Haji Ilen pada 1960-an membuat kesenian Rampak Bedug menjadi semakin berkembang.
Awalnya, pemain Rampak Bedug didominasi oleh laki-laki. Seiring berjalannya waktu, peran perempuan turut memberikan warna dalam pertunjukan Rampak Bedug.
Biasanya, pertunjukan Rampak Bedug dipentaskan oleh sekitar 10 pemain yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempiam.
Para pemain laki-laki menggunakan busana pesilat dengan sentuhan warna-warna cerah dan sorban khas Banten. Sedangkan pemain perempuan mengenakan busana khas tari tradisional.
Keunikan Rampak Bedug tidak lepas dari penggunaan berbagai jenis waditra (alat musik tradisonal khas Sunda).
Kombinasi permainan yang kompak dengan irama tabuhan yang menggema mengiringi tarian yang penuh makna sehingga tercipta suatu pertunjukan yang lebih dari sekedar hiburan, tetapi juga penghormatan pada nilai-nilai religi yang ada.
Rampak Bedug, Tanda Kehadiran Momen Penting
Awalnya kesenian ini dipergunakan untuk menyemarakkan bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Seiring berjalannya waktu, Rampak Bedug tak hanya dipentaskan dalam acara keagamaan, kini telah berkembang menjadi pertunjukan yang turut meramaikan berbagai momen penting seperti pernikahan, khitanan, hingga peringatan hari-hari nasional.
Dengan segala perjalanan dan perkembangannya, Rampak Bedug bukan hanya sebagai sarana memperkuat ikatan keagamaan dan sosial, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Warga sedulur Banten, mari bersama jaga dan lestarikan kekayaan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita.
(Rijal/MGNG).
Sumber :
1. indonesia.go.id
2. kebudayaan.kemdikbud