Penyakit Tuberkulosis (TBC) saat ini tengah menjadi masalah kesehatan terbesar setelah HIV. Pemerintah telah melakukan berbagai langkah dalam penanganannya.
Mulai dari menemukan gejala di masyarakat, mengobati TBC dengan tepat dan cepat serta memadukan pengobatan TBC sampai sembuh. Skrining pun dilakukan secara masif khususnya pada kontak serumah dan kontak erat yang sangat berisiko terpapar TBC.
Baca juga: Cara Merawat Orang dengan TBC
Apa yang terjadi bila TBC tidak segera teridentifikasi? Kasus TBC yang tidak segera teridentifikasi dapat menyebabkan efek domino, mulai dari penularan yang semakin meluas, beban biaya kesehatan meningkat, produktivitas menurun, serta memicu komplikasi penyakit hingga kematian.
Temuan kasus TBC di Indonesia dalam 4 tahun terakhir berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2023 dan 2022 estimasi kasus TBC mencapai 1.060.000.
Selanjutnya, pada tahun 2021 mencapai 969.000 dan pada tahun 2020 mencapai 824.000 kasus TBC. Pada Oktober 2024 TBC di Indonesia sudah mencapai 692.000 kasus yang ditemukan. Data ini masih akan terus meningkat hingga akhir tahun dengan perkiraan 1.092.000 kasus.
Kemenkes RI menargetkan pada tahun 2025 sebanyak 1 juta kasus TBC bisa ditemukan. Kenaikan TBC di Indonesia terjadi karena pemerintah sedang aktif melakukan penemuan kasus TBC di seluruh daerah.
Sementara itu, di Provinsi Banten hingga Oktober 2024 telah ditemukan 45.644 kasus TBC dari estimasi/perkiraan 50.391 kasus.
Adapun jumlah pasien TBC di Banten sebanyak 39.068 orang dengan jumlah pasien TBC sembuh di Banten mencapai 33.459 atau 86 persen dengan target kesembuhan 90 persen dan target eliminasi TBC pada tahun 2030.
Lebih banyak kasus TBC ditemukan artinya lebih banyak pasien mendapat pengobatan tepat waktu. Penularan pun bisa dihentikan lebih cepat.
Jangan hawatir warga sedulur Banten, TBC bisa disembuhkan dengan mengenali gejalanya dan segera periksa ke fasyankes terdekat untuk pengobatan lebih lanjut. Jangan menunda pengobatannya ya warga sedulur Banten.
Sumber:
1. Instagram @kemenkes_ri
2. Wawancara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten