Penanganan TBC masih menjadi PR pemerintah hingga saat ini baik di tingkat pusat sampai daerah. Tuberkulosis yang disingkat TB atau TBC, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis.
Penyakit TBC tidak hanya menyerang organ paru, penyakit TBC bisa menyerang organ tubuh lainnya. Penularan terjadi dengan mudah, karena bisa ditularkan melalui udara. TBC bisa lebih mematikan dari COVID-19.
Baca juga: Ciri Gejala TBC Pada Anak
Sampai saat ini, TBC telah membunuh lebih dari 1 miliar orang di dunia. Deteksi TBC yang mirip dengan COVID-19, memberikan fakta bahwa jika pengidap TBC tidak di tes maka akan berpotensi menularkan TBC pada orang lain karena tidak diobati.
Indonesia menjadi negara yang menempati urutan nomor dua dengan angka TBC tertinggi di dunia. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia sangat serius dalam mengatasi TBC.
Salah satunya melalui uji klinis untuk vaksin baru TBC yang telah difasilitasi oleh Kemenkes Indonesia, dengan harapan pada tahun 2029 vaksin TBC dapat diluncurkan.
Baca juga: Cara Merawat Orang dengan TBC
Sebelumnya, Kemenkes juga menargetkan 1 juta kasus TBC dapat terdeteksi pada tahun 2025 sambil melakukan peningkatan kasus yang disembuhkan.
Dalam upaya mencapai target tersebut, pemerintah menyusun 3 inovasi yang bertujuan untuk mendorong akses pengobatan yang lebih merata, kesadaran masyarakat yang semakin meningkat, dan juga pemanfaatan teknologi untuk kebutuhan diagnosis yang lebih cepat dan akurat.
Berikut 3 inovasi pemerintah dalam upaya memerangi TBC :
1. Meningkatkan dan mengulangi Sistem Surveilans
Dulu, metode skrining dilakukan hanya menggunakan skrining TBC dan TCM yang biasa digunakan untuk pemeriksaan diabetes. Kini metode skrining TBC akan menggunakan teknologi PCR yang sebelumnya digunakan untuk COVID-19.
Inovasi ini dilakukan dengan melakukan usap pada area tenggorokan, kemudian dilakukan tes PCR. Metode ini bisa dibilang memberikan kemudahan, karena tidak harus diambil dari batuk saat akan melakukan skrining.
Baca: Ayo Perangi TBC
Selain itu, ada teknologi terbaru yaitu USG yang biasa digunakan untuk memeriksa kondisi janin dan deteksi kanker payudara yang akan digunakan untuk mendeteksi TBC.
2. Memperkuat Aspek Terapeutik atau Pengobatan
TBC yang memakan waktu 6 bulan, menjadi salah satu faktor banyaknya pasien yang tidak mau melakukan pengobatan dan tidak mau menyelesaikan pengobatan. Hal itu menjadi hambatan pengobatan TBC di Indonesia.
Oleh karena itu, Kemenkes merencanakan pengembangan pengobatan yang dapat mempercepat penyembuhan pasien TBC. Seperti memperpendek durasi pengobatan dari 6 bulan menjadi 1 bulan atau diganti menggunakan obat sekali suntik sebagai alternatif.
3. Pengembangan Vaksin TBC
Indonesia telah terlibat dalam uji klinis vaksin TBC M72. Namun karena tingkat keberhasilannya sangat rendah, Indonesia akan mengikuti uji klinis berbagai jenis vaksin TBC lainnya.
Dengan 3 inovasi yang diinisiasi oleh pemerintah menggunakan kombinasi vaksin dan pengobatan yang dikembangkan, diharapkan akan semakin membantu upaya menurunkan angka TBC di Indonesia dan di dunia. (Nida/MGNG)
Sumber :
1. sehatnegeriku.kemkes.go.id
2. www.kemkes.go.id
3. ayosehat.kemkes.go.id