Tingkatkan Wawasan Kebangsaan, Kesbangpol Bentuk PPWK

-

Nilai-nilai wawasan kebangsaan saat ini dinilai sudah mulai memudar. Hal tersebut terjadi ditengarai karena beberapa faktor, seperti perkembangan arus globalisasi hingga perubahan sikap serta prilaku sehari-hari. Atas hal tersebut, perlu dilakukan upaya preventif salah satunya melalui pembentukan Pusat Pengembangan Wawasan Kebangsaan (PPWK).

Hal tersebut diungkapkan Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Banten Ade Aryanto pada Rabu (2/5/2018). Ade Aryanto memberi contoh pudarnya nilai-nilai tersebut dimana sikap anak sekolah tidak lagi seperti dahulu. Sikap siswa di sekolah sudah biasa memanggil tanpa etika. Arus globalisasi nilai-nilai tatakrama sudah mulai luntur. Dengan kondisi tersebut pihaknya telah melakukan upaya antisipasi, salah satunya dengan membentuk PPWK. Melalui PPWK, Kesbangpol ingin mendorong, menanamkan dan melestarikan nilai-nilai sebagaimana yang tertuang Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman dalam berinteraksi. 

"Ke depan kami akan mendorong penanaman nilai-nilai kebangsaan melalui PPWK. Tahapannya dimulai dengan TOT (training of trainer)," katanya.

Ade menjelaskan, TOT dimaksudkan agar para pengurus PPWK dalam pelaksanaan pendidikan ke depan sesuai dengan target yang diharapkan. Terutama, TOT akan juga diberikan kepada pegawai Kesbangpol. 

“Selain pengurus PPWK yang terdiri dari berbagai unsur pemerintahan vertikal, Pemprov Banten, pemkot/pemkab, unsur masyarakat lainnya. TOT juga akan diberikan kepada pegawai Kesbangpol,” tegasnya

Adapun sasaran PPWK adalah sekolah dan pondok pesantren. Sedangkan, materi yang akan disampaikan adalah terkait empat pilar kebangsaan. Para siswa harus memahami itu sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. “TOT dianggaran perubahan. Polanya 100 jam (pelajaran) biar lengkap,” katanya.

Pemateri pendidikan PPWK Damanhuri mengatakan, saat ini keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang dalam ancaman. Sehingga, keterlibatan seluruh elemen dalam menjaga menjadi sebuah keharusan. 

“Kalau zaman dahulu penjajahan dilakukan dengan senjata. Saat ini, penjajahan dilakukan dengan berbagai macam cara. Kita harus peduli, kalau tidak anak cucu kita hanya pernah mendengar kata Indonesia,” tegasnya.