Djarum dan Astra Investasi Triliunan ke Startup

  • Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu
  • 145 Views
  • 13 Feb 2018
-

Go-Jek mengumumkan partisipasi PT Astra International Tbk. dalam ronde pendanaan terbaru pada tahun ini. Astra berinvestasi senilai US$150 juta kepada perusahaan layanan transportasion demanditu.

CEO Go-Jek Nadiem Makarim memastikan angka penyertaan modal dari Astra bukan sebatas yang tertinggi ketimbang investor lain dalam ronde pendanaan terbaru Go-Jek.

Lebih dari itu, suntikan dana Astra merupakan nilai investasi tertinggi dalam yang pernah digelontorkan investor lokal dalam sejarah kepada perusahaan teknologi rintisan di Indonesia.

Grup Djarum kemarin juga mengumumkan investasi di Go-Jek melalui Blibli.com. Nilai investasi Djarum tidak dipublikasikan, tetapi dikabarkan mencapai US$100 juta.

“Ini sangat membanggakan bagi kami, karena membuktikan pemain besar lokal mulai serius berpartisipasi dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Senin (12/2).

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Willson Cuaca mengatakan pelaku industri modal ventura yang aktif berinvestasi ke perusahaan-perusahaan teknologi rintisan di Indonesia sudah lama menunggu perusahaan besar lokal ikut aktif di ekosistem bisnis teknologi rintisan.

Dia menilai agresivitas perusahaan-perusahan luar negeri dan keberhasilan perusahaan rintisan di Tanah Air menarik minat investor asing membuat perusahaan raksasa lokal tidak ingin kehilangan peluang bisnis.

Ekosistem bisnis rintisan di Indonesia, lanjutnya, bahkan lebih bergairah dibandingkan dengan ekosistem di Singapura.

“Kami sudah menunggu ini sejak 2010. Kami percaya bisnis ini akan berkembang, tetapi waktu itu enggak ada yang percaya,” katanya, (2/12).

Beberapa grup konglomerasi lokal sebetulnya sudah aktif sebagai investorstartup.Namun, sebagian besar menggunakan “kendaraan” perusahaan modal ventura dan disokong dari kantong pribadi keluarga.

Djarum menapaki bisnis pendanaanstartupdi bawah naungan GDP Venture yang didirikan sejak 2010. Beberapa portfolio investasinya adalah Kaskus, Mindtalk, Blibli, Tiket.com, Beritagar, DailySocial, Kumparan, dan HaloDoc.

Grup Lippo mulai merambah bisnis ekonomi digital melalui Venturra Capital pada kuartal akhir 2015. Beberapa portofolio invstasi Venturra di antaranya adalah Grab, Ruangguru, MatahariMall, Ovo, Luno, Kaodim, Bridestory, iPrice, dan Zilingo.

Eksistensi Grup Salim dalam ekonomi digital tak dilakukan melalui perusahaan modal ventura. Grup Salim banyak berinvestasi padastartupteknologi melalui salah satu anak usaha di bidang telekomunikasi yang berbasis di Filipina, yaitu Phillipine Long Distance Telephone Company Company. Melalui PLDT, Grup Salim memiliki sebagian kepemilikan berbagai perusahaan raksasa teknologi seperti Rocket Internet, Zalora, Lazada, Elevenia, iLotte, dan i.Saku.

Kiprah investasi Grup Sinarmas pada ekosistem ekonomi digital dilakukan melalui Sinar Mas Digital Venture. Melalui perusahaan modal ventura itu, Sinarmas telah berinvestasi pada berbagai perusahaan rintisan seperti aCommerce, HappyFresh, GiftCard Indonesia, Cantik, dan Female Daily Network.

Aksi Astra lebih menyerupai grup Emtek. Perusahaan tersebut berinvestasi langsung kestartupmelalui anak usahanya KMK Labs. Investasi Emtek di Bukalapak dan Kudo tercatat di laporan keuangan perusahaan.

Pemilik stasiun televisi Indosiar dan SCTV ini juga aktif dalam bisnis digital sebagai pemilik platform berbagi video Vidio dan aplikasi pengiriman pesan BlackBerry Messenger.[]