Open Camp Pertama di Indonesia Dibangun di Banten, Andika Minta Masyarakat Mendukung

-

TANGERANG – Kementerian Hukum dan HAM membangun Permukiman Pemasyarakatan atau I luar negeri dikenal dengan istilah Open Camp, seluas 30 hektar di Desa Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy meminta masyarakat sekitar lokasi dan masyarakat Banten umumnya untuk mendukung keberadaan lembaga pembinaan dan pemberdayaan para narapidana tersebut.

“Program pemerintah pusat melalui Kementerian Hukum dan HAM dengan membangun Open Camp ini diyakini dapat berdampak positif, di antaranya dapat mendorong perekonomian warga sekitar dan juga citra sebagai daerah dimana para narapidana berhasil diberdayakan sebagai manusia,” kata Andika dalam sambutannya pada acara peletakan batu pertama Permukiman Pemasyarakatan Ciangir di lokasi pembangunan, Rabu (11/10). Hadir Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly melakukan peletakan batu pertamanya.

Dikatakan Andika, gagasan Open Camp sebagai sarana pemberdayaan para narapidana sebagai sebuah terobosan bagi kemandekan yang menghadang persoalan pemasyarakatan selama ini di Indonesia. “Saya menengar Open Camp di sejumlah negara telah berhasil mengusung misinya menjadikan para narapidana menjadi manusia produktif yang berguna bagi lingkungannya.” Kata Andika.

Pemukiman Pemasyarakatan Ciangir  akan terdiri dari hunian vertikal atau rumah susun yang bisa menampung sampai 5.000 warga binaan. Kemudian, juga ada sentra-sentra kegiatan sebagai bagian dari pembinaan terhadap narapidana di sana. Fasilitas sentra kegiatan untuk kegiatan keterampilan, pertanian, perkebunan, peternakan, agrowisata, kerajinan tangan, hingga garmen.

Di dalam komplek seluas 30 hektar yang dibangun di atas tanah hibah dari Pemprov DKI Jakarta tersebut juga disiapkan sarana ibadah untuk agama yang diakui di Indonesia, gedung pertemuan, tempat kunjungan keluarga, saung dan ruang rekreasi olahraga, serta area khusus untuk konservasi lingkungan. Di komplek tersebut juga akan dipasang penghasil sumber energi mandiri untuk kebutuhan listrik di seluruh area komplek Permukiman Pemasyarakatan.

Kemudian, ada area perkantoran seperti Balai Pemasyarakatan serta tempat pertemuan warga binaan dengan masyarakat sekitar yang dinamakan Pasar Asimilasi. Pasar Asimilasi nantinya berfungsi layaknya pasar pada umumnya, dengan menjajakan hasil pertanian dan peternakan yang dikerjakan oleh warga binaan.

Selain itu, ada juga sentra-sentra industri penghasil produk tertentu yang dihasilkan oleh warga binaan terlatih. Para warga binaan akan dibekali dengan latihan packaging atau cara mengemas produk hingga menghasilkan kebutuhan perlengkapan sehari-hari seperti sabun dan odol.

Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly dalam sambutannya berharap, ke depan kebutuhan warga binaan di seluruh Indonesia bisa menggunakan produk dari sesama warga binaan sendiri. “Hal ini dilakukan guna mempersiapkan mereka agar punya keterampilan dan kemampuan dalam bidang tertentu sebelum selesai menjalani masa hukumannya,” katanya seraya mengatakan, pembangunan komplek Permukiman Pemasyarakatan Ciangir akan berlangsung selama dua tahun, dengan target pembangunan rampung pada tahun 2019 mendatang. (*)