Petani Diimbau Lakukan Gilir Varietas

  • Shiyabatus Sakhowah
  • 31 Views
  • 05 Jul 2018
-

Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten mengimbau kepada para petani di Banten untuk menggilir penanaman varietas padi di musim kedua tanam atau musim kemarau. Hal itu perlu dilakukan sebagai antisipasi terjadinya serangan hama penyakit padi.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, setiap musim memiliki potensi hama penyakit padi yang berbeda. Oleh karenannya, alangkah baiknya perlakukan penanaman padi bisa disesuaikan dengan musimnya. Salah satu caranya adalah dengan menggilir varietas yang ditanam. 

“Harus ada pergiliran varietas, menanam jenis benih padi yang sesuai dengan musimnya,” ujarnya pada Kamis (5/7/2018)

Agus menjelaskan, saat ini para petani cenderung lebih menyukai varietas Ciherang dan IR 64. Alasannya, varietas tersebut lebih mendapat respon dari pengusaha penggilingan padi. Padahal, varietas tersebut terbilang sudah tua, sehingga rentan terhadap hama penyakit. 

“Contoh kasus di Desa Panimbang Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang yang terserang hama penyakit. Tapi Alhamdulillah setelah tim dari kami turun, bisa diatasi,” katanya. 

Jika saat ini memasuki musim kemarau, kata dia, maka varietas yang lebih cocok ditanam adalah situbagendit. Selain itu bisa juga diguankan varietas Inpari 33 yang tahan terhadap serangan hama penyakit wereng batang coklat (WBC).

“Jika seperti pertanaman musim ke dua, musim kemarau, ada baiknya pakai situbagendit yang tahan terhadap kekeringan. Bisa juga misalnya yang tahan sekali terhadap wereng seperti Inpari 33,” ungkapnya. 

Lebih lanjut dikatakan Agus, gilir varietas bisa dilakukan pihaknya akan mendorong setiap penyedia benih bisa menyediakan produk sesuai musim. Selain itu distan juga mengajak kepada para petani untuk ikut dalam program asuransi usaha tani padi sebagai jaring pengaman saat terjadi gagal panen. 

“Kalau pun gagal panen kami juga sudah mengantisipasi melalui langkah-langkah perlindungan, salah satunya melalui asuransi usaha tani padi. Sudah kami ajak, murah sekali preminya hanya Rp 36.000 per bulan, yang lainnya disubsidi oleh pemerintah. Jaminannya kalau gagal panen itu Rp 4 juta sampai Rp 6 juta, itu akibat apakah hama penyakit atau lain sebagainya,” tuturnya. 

Dalam beberapa kesempatan, Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan bahwa Pemprov Banten akan terus mendorong agar petani di Banten bisa sejahtera. Selain langkah teknis di lapangan, pemprov juga berencana membangun sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Agrobisnis.

“BUMD ini menjawab tantangan yang berkaitan langsung dengan produk hasil pertanian, distribusi, penyediaan barang dan jaminan kebutuhan pokok. Selain itu juga untuk menangkal para tengkulak,” ujarnya.